Kamis, 04 Maret 2021

Follow us:

infobrand

infobrand

Menembus Belantara Sumatera dengan Peta Digital Tanpa Putus

Posted by: 22-02-2021 11:42 WIB 333 viewer

Menembus Belantara Sumatera dengan Peta Digital Tanpa Putus
Jalan tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Palembang sepanjang 370 kilometer telah dilengkapi dengan fasilitas dan infrastruktur pendukung seperti tower seluler di tempat peristirahatan. (Foto: Agus Aryanto)

JAKARTA - Sejak teknologi peta digital berkembang pesat melalui smartphone, hampir setiap orang tidak memiliki keraguan untuk mulai melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi. Dengan mengaktifkan Global Positioning System (GPS) dan peta digital di smartphone, seseorang yang belum pernah melakukan perjalanan lintas provinsi di jalan yang belum pernah dilalui sebelumnya pun, dengan percaya diri melakukan perjalanan menempuh jarak ribuan kilometer.

Setidaknya hal itu seperti yang saya alami, saat melakukan perjalanan pulang kampung, Desember 2020 lalu, dari Ibu Kota Jakarta ke Muara Bungo, Provinsi Jambi, dengan jarak lebih dari 1.000 kilometer. Rute yang saya lalui dari Jakarta menuju ke pelabunan penyeberangan Merak sejauh 143 kilometer. Kemudian melintasi Tol Trans Sumatera Bakauheni-Palembang sejauh 370 kilometer. Dilanjutkan jalan Lintas Sumatera Palembang-Jambi sejauh 277 kilometer. Dan terakhir Jambi-Muara Bungo sejauh 245 kilometer. Sesuai estimati peta digital yang saya gunakan (Google Map), perjalanan dari Jakarta-Muara Bungo sejauh 1.030 kilometer dapat ditempuh dalam waktu 19 jam 30 menit. Namun dalam realisasinya, perjalanan tersebut saya tempuh dalam waktu kurang lebih 24 jam.

Sepanjang perjalanan tersebut saya tidak putus dari panduan Google Map. Meskipun sepanjang perjalanan dapat ditemui papan petunjuk jalan, peta digital itu untuk memastikan bahwa jalan yang saya ambil tidak salah. Selain estimasi waktu, saya juga mendapatkan informasi wilayah yang sedang saya lalui, informasi kondisi lalu lintas, hingga medan jalan seperti jalan berkelok, dapat terpantau di peta.

Yang menarik dalam perjalanan saya tersebut, hampir sepanjang perjalanan, peta digital bisa dibilang tidak pernah berhenti. Peta dapat bekerja secara real time, sejalan dengan perjalanan kendaraan.  Padahal wilayah yang saya lalui tidak semuanya kota. Tapi melintasi jalan yang melintasi wilayah terpencil berjarak puluhan hingga ratusan kilometer dari kota bahkan pemukiman penduduk. Sebagian wilayah yang saya lalui tidak sedikit merupakan belantara perkebunan, bahkan hutan seluas ratusan hingga ribuan hektar.

Memang peta digital dapat terlebih dahulu diunduh agar dapat bekerja secara offline. Namun saya lebih yakin untuk menggunakan secara online. Saya juga yakin sepanjang perjalanan sinyal yang saya dapatkan tidak pernah putus, karena istri saya selalu berkomunikasi melalui messenger dengan saudara kami untuk memastikan posisi perjalanan kami sudah sampai daerah mana.

Saya juga meyakini kondisi sepanjang jalan yang saya lalui telah terhubung dengan sinyal seluler. Sepertinya pemerintah telah memastikan sepanjang jalan yang menjadi lalu lintas utama masyarakat telah tersedia jaringan seluler. Di beberapa lokasi seperti rest area di Jalan Tol Trans Sumatera sebagai lalu lintas baru juga telihat telah terbangun tower seluler.

Bahkan di titik tertentu di tengah hutan atau perkebunan juga dapat ditemukan tower seluler. Itu sesuai dengan program pembangunan pemerintah yang memberikan perhatian pada wilayah 3T (tertinggal, terpencil dan terdepan). Tidak hanya dalam bentuk infrastruktur jalan untuk menghubungkan wilayah satu dengan wilayah lain, tapi juga termasuk infrastruktur telekomunikasi, agar masyarakat terutama pengguna jalan dapat selalu terhubung secara digital.

Multiplier Effect

Dampak berganda (multiplier effect) dari pembangunan infrastruktur tersebut pun sangat jelas terlihat. Pertama dari pembangunan infrastruktur telekomunikasi di sepanjang jalan Tol Trans Sumatera, membuat ruas tol Bakauheni-Palembang yang baru tersambung pada tahun 2019 lalu itu telah menjadi lalu lintas yang ramai. Titik tower yang berada di lokasi rest area juga membuat pengguna jalan tidak ragu untuk beristirahat dalam perjalanannya, meskipun di tempat terpencil di tengah belantara.

Banyaknya pengguna jalan yang berhenti di rest area juga menggerakkan perekonomian masyarakat dengan berdagang di rest area. Tidak hanya itu, beberapa titik tower seluler di luar jalan tol, tower seluler yang berada kawasan hutan atau perkebunan juga terdapat pemukiman masyarakat, yang juga dapat menjadi persinggahan yang aman bagi pengguna jalan.

Tentunya pembangunan insfrastruktur yang dilakukan pemerintah tersebut tidak lepas dari peran berbagai pihak, termasuk perusahaan operator seluler, hingga perusahaan bergerak di bidang jasa pendukung telekomunikasi seperti penyewaan dan pemeriharaan tower seluler atau Base Transceiver Station (BTS). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, di tahun 2018 lalu, jumlah tower BTS terdiri dari 189.081 tower milik Telkomsel, 74.926 toert milik Indosat, 118.596 tower milik XL, dan 19.032 tower milik Smartfren.

Tidak cukup hanya dengan itu, saat ini pemerintah terus menambah jumlah BTS di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah 3T. Laporan BPS tahun 2019 mencatat, di tahun 2018 lalu, masih ada sebanyak 6.676 wilayah meliputi kota dan desa masih tidak ada sinyal seluler. Untuk menjangkaunya, pemerintah melalui Kementerian Keuangan Desember 2020 lalu telah mengumumkan anggaran sebesar Rp25 triliun pada tahun 2021 hingga 2024 untuk pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), meliputi satelit, transponder, hingga BTS. Untuk merealisasikannya, pemerintah mengharapkan adanya peran pihak swasta.

Komitmen TBIG

CEO PT Tower Bersama Infrastructur Tbk (TBIG), Hardi Wijaya Liong dalam wawancara tertulis dengan infobrand.id mengungkapkan, per 30 September 2020, TBIG memiliki 31.703 penyewaan dan 16.215 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik Perseroan terdiri dari 16.093 menara telekomunikasi dan 122 jaringan Distributed Antenna System (DAS).

Tidak cukup dengan jumlah tersebut, TBIG terus melakukan ekspansi demi memenuhi kebutuhan operator telekomunikasi, untuk menyediakan infrastruktur telekomunikasi dalam menunjang akses jaringan serta teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu cara dilakukan dengan berencana mengakuisisi PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) yang memiliki 3.000 tower BTS.

Sebagai bentuk dukungan kepada upaya pemerintah dalam melakukan pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, TBIG sebagai perusahaan nasional di bidang infrastruktur telekomunikasi, juga berkomitmen berkolaborasi dengan operator-operator telekomunikasi untuk menghadirkan jaringan telekomunikasi di seluruh penjuru Indonesia, termasuk wilayah 3T. Menurut Hardi, selain mendukung program pemerintah dalam membuka akses Internet dan teknologi Informasi di wilayah 3T, TBIG sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi juga selalu memastikan dapat melayani pelanggan dengan baik.

“TBIG terus mendukung pelanggan kami dengan memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan yang diminta oleh para pelanggan kami salah satunya pembangunan infrastruktur di wilayah 3T,” jelas Hardi dalam keterangan tertulis kepada infobrand.id.

Dengan adanya komitmen pemerintah dan swasta dalam membangun infrastruktur telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia terutama wilayah 3T, niscaya akan menciptakan konektivitas antar wilayah Indonesia, serta memajukan potensi perekonomian wilayah tertinggal, terpencil dan terdepan Indonesia.(***)


Kirimkan Press Release berbagai kegiatan aktifitas Brand Anda ke: infobrandindonesia@gmail.com



Article Related


Event Salonpas Sport Virtual Ride Diikuti Lebih dari 1000 Pesepeda

Event Salonpas Sport Virtual Ride Diikuti Lebih dari 1000 Pesepeda
JAKARTA - Setahun ke belakang ini, sport challenge event yang digelar secara virtual menjadi ajang yang paling dicari para pecinta olahraga. Selain me...


Menembus Belantara Sumatera dengan Peta Digital Tanpa Putus

Menembus Belantara Sumatera dengan Peta Digital Tanpa Putus
JAKARTA - Sejak teknologi peta digital berkembang pesat melalui smartphone, hampir setiap orang tidak memiliki keraguan untuk mulai melakukan perjalan...


Kangaroo Springbed raih anugerah Brand Indonesia

Kangaroo Springbed raih anugerah Brand Indonesia
JAKARTA. Brand kasur lokal Kangaroo Springbed terus melakukan ekspansi bisnis. Sejak melakukan ekspansi ke pulau jawa dengan mengembangkan Modern...


Dompet Dhuafa Sabet Penghargaan Anugerah Brand Indonesia 2018

Dompet Dhuafa Sabet Penghargaan Anugerah Brand Indonesia 2018
Lembaga Filantropi Dompet Dhuafa berhasil meraih penghargaan Anugerah Brand Indonesia (ABI) 2018. Ajang penghargaan ini terselenggara atas kerjasama T...


Sign In
VIP Members

MOST POPULAR











Index

OPINIONS







Index
Elnusa